Rabu, 22 Januari 2014

Laporan pembuatan larutan

LAPORAN  MINGGUAN
PRAKTIKUM KIMIA DASAR I
PEMBUATAN LARUTAN


Disusun Oleh :
        A-2
Teknik Industri
Valenda Offyannur Yustitia     
1309035002

LABORATORIUM TEKNOLOGI KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2013


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Ketika mempelajari kimia dikenal adanya larutan. Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu komponen. Komponen yang terdapat dalam jumlah besar disebut pelarut atau solvent. Sedangkan komponen dalam jumlah sedikit disebut zat terlarut atau solute. Konsentrasi dalam suatu larutan didefinisikan sebagai jumlah solute yang ada dalam sejumlah larutan atau pelarut. Konsentrasi dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Antara lain molaritas, molalitas, normalitas dan sebagainya.
Dalam ilmu kimia, pengertian larutan ini sangat penting. Karena hampir semua reaksi kimia terjadi dalam bentuk larutan. Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi dengan baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat berpariasi. Contohnya dalam pembuatan larutan H2SO4 dengan konsentrasi yang lebih rendah. Maka larutan H2SO4 pekat dilarutkan dengan H2O sehingga larutan H2SO4 menjadi lebih encer.
Dalam praktikum ini diharapkan kita dapat mengetahui bagaimana kita membuat larutan dengan konsentrasi sesuai yang diperluakan.

1.2   Tujuan Percobaan
-      Mempelajari cara menghitung konsentrasi larutan NaCl,
-      Mempelajari cara menghitung konsentrasi larutan H2SO4,
-      Mempelajari perbedaan cara pembuatan larutan dari zat cair dengan zat padat.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Campuaran homogen adalah suatu campuran yang terdiri dari 2 bahan atau lebih dalam fase yang sama. Sebagai contoh sejumlah kecil garam (NaCl) dimasukkan ke dalam air, garam perlahan akan menghilang. Garam yang telah dimasukkan larut dalam air dank arena larutnya garam, air dan garam pun membentuk suatu zat baru yang memiliki sifat yang berbeda dengan zat murninya. Air pada saat murni tidak memiliki rasa.namun setelah ditambahkan garam,air akan memiliki rasa asin begitu pula pada garam. Garam pada saat murni slalu berbentuk padatan namun setelah dimasukkan dalam air garam berubah cair.
Campuran heterogen adalah suatu campuran yang terdiri dari dua bahan atau lebih yang memiliki fasa yang berbeda. Contohnya adalah pasir dimasukkan kedalam air, campuran ini merupakan campuran heterogen karena terdiri dari bahan-bahan yang memiliki fase berbeda, pasir dalam fase padatan dan air dalam fase cair.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu jenis zat, temperatur  (suhu), tekanan, ukuran  zat terlarut, volume pelarut, pengadukan, pH, hidrolisis, (Khopkar, 2003).
-          Jenis Zat
 Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip umumnya dapat saling bercampur dengan baik, sedangkan zat-zat yang struktur kimianya berbeda umumnya kurang dapat saling bercampur (like dissolves like). Senyawa yang bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam pelarut nonpolar.
-          Temperatur (suhu)
 Kelarutan gas umumnya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi. Misalnya jika air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang keluar dari dalam air, sehingga gas yang terlarut dalam air tersebut menjadi berkurang. Kebanyakan zat padat kelarutannya lebih besar pada temperatur yang lebih tinggi.
-          Tekanan
 Perubahan tekanan pengaruhnya kecil terhadap kelarutan zat cair atau padat. Perubahan tekanan sebesar 500 atm hanya merubah kelarutan NaCl sekitar 2,3 % dan NH4Cl sekitar 5,1 %. Kelarutan gas sebanding dengan tekanan partial gas itu. Menurut hukum Henry (William Henry: 1774-1836) massa gas yang melarut dalam sejumlah tertentu cairan (pelarutnya) berbanding lurus dengan tekanan yang dilakukan oleh gas itu (tekanan partial), yang berada dalam kesetimbangan dengan larutan itu. Contohnya kelarutan oksigen dalam air bertambah menjadi 5 kali jika tekanan partial-nya dinaikkan 5 kali. Hukum ini tidak berlaku untuk gas yang bereaksi dengan pelarut, misalnya HCl atau NH3 dalam air.
-          Ukuran Zat Terlarut
      Zat terlarut dengan ukuran kecil (serbul) lebih mudah melarut dibandingkam dengan zat yang berukuran besar. Akibatnya zat terlarut berbentuk serbuk lebih cepat larut daripada zat terlarut berukuran besar.
-          Volume Pelarut
      Volume pelarut yang besar akan lebih mudah melarutkan zat terlarut.
-          Pengadukan
 Pengadukan menyebabkan partikel antara zat terlarut dengan pelarut akan semakin sering bertabrakan, hal ini menyebabkan proses pelarutan menjadi semakin cepat.
Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat terlarutpadatemperatur tertentu disebut larutan jenuh. Sebelum mencapai titik jenuh larutan tidak jenuh. Kadang-kadang dijumpai suatu keadaan dengan  zat terlarut dalam larutan lebih banyak daripada zat terlarut yang seharusnya dapat melarut pada temperature tersebut. Larutan yang demikian disebut larutan lewat jenuh.

  Banyaknya zat terlarut yang dapat menghasilkan larutan jenuh, dalam jumlah tertentu pelarut pada temperatur konstan disebut kelarutan. Kelarutan suatu zat bergantung pada sifat zat itu, molekul pelarut,  temperature dan tekanan.
Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam sejumlah tertentu larutan. Secara fisika konsentrasi dapat dinyatakan dalam % (persen) atau  ppm (part permillion) = bpj (bagian per juta). Dalam kimia, konsentrasi larutan dinyatakan dalam molar :
-          Molaritas (M)
Molaritas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam setiap liter larutan.
-          Molalitas (m)
Molalitas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam setiap kilo gram (1 000 gram)
-          Normalitas (N)
Normalitas menyatakan jumlah ekuivalen zat terlarut dalam setiap liter larutan.
Massa ekuivalen adalah massa zat yang diperlukan untuk menangkap atau melepaskan 1 mol elektron dalam reaksi (reaksi redoks).
Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat berpariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan, atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sebagian kecil solute, relative terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut. Sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam mana solute terlarut (Baroroh, 2004).
Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air (H2O), selain air yang berfungsi sebagai pelarut adalah alcohol, amoniak, kloroform, benzena, minyak, asam asetat, akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak disebutkan (Gunawan, 2004). Larutan gas dibuat dengan mencampurkan  suatu gas dengan gas lainnya. Karena semua gas bercampur dalam semua perbandingan, maka setiap campuran gas adalah homogen ia merupakan larutan.
Larutan cairan dibuat dengan melarutkan gas, cairan atau padatan dalam suatu cairan. Jika sebagian cairan adlah air, maka larutan disebut larutan berair. Larutan padatan adalah padatan-padatan dalam mana satu komponen terdistribusi tak beraturan pada atom atau molekul dari komponen lainnya (Syukri, 1999).
Meskipun larutan dapat mengandung banyak komponen, tetapi pada tinjauan ini hanya dibahas larutan yang mengandung dua komponen. Yaitu larutan biner. Komponen dari larutan biner yaitu pelarut dan zat terlarut.

Satuan konsentrasi
Lambang
Nama
Definisi
Satuan Fisika
% w/w
Persen berat
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVo53Q-cPm0lZgeCV7cgN2hkJadCdb730BjIh87fEafVyd45d1pVKYGZ1KU7pfK-5-smfA3oCGck9TDTU4uKHPD45aF8fjw1fFnLj0c1vB3iKW229Gy_KbrVLtrjrmj7NISaCL_dRT1q8/s1600/persenberat.png
% v/v
Persen volume
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikkC5KiBUsxrCchhPpah2EOT8FLvPETls2Wy0CChl_du6ECCL_qck1qrwMv96Moi2iprNs6D-8nsma7gWhO4eYHB2yLkxlXWEQ9fzX07rHV9LEnuGdfhxKJEJP3mKT95Sd5wPEvNJGvfs/s1600/persenvolume.png
% w/v
Persen berat volume
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhbIHt-B0ECvdhDHG1x9Lda4bsdEBZv6aeGvCgO19zElykU8tynJim4UKEz1jmrkZY-jc3tOPGYsqSO1M3Ey19pDalzb3mBdzXiUEh1XJMiu5U3eLbYrQDaKW0i4guWgcLfw8X_ruovWQ/s1600/persenberatvolume.png
ppm
Parts per million
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6tzNEQhtNuQPcPqoAAfTpAtGvUfrX7NBZcdH2gHR0VEvalFEZ5NJGpWP-YaDvJfd4Nc8k5qBuMghna-6i5I2mmwDfrQiyN1xcPKbXFJ6fQh-vqDD34E3bKIIqVFkhUqcQz3gHqw4_3fM/s1600/ppm.png
ppb
Parts per billion
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP_2mwHqzhVxmoPuxQa8NWKQcjPbGhmUl8MKQBt2sw5QWbj2xWb8PBvj17R67AeE8raDoEvTT7vBOInTuHZ1y4kWYnpbYvXGep7Hb5PBAg3ig83WmBtHND_LaUkrNJqB_2Jn7rHfgcB7Y/s1600/ppb.png
Satuan kimia
X
Fraksi mol
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibnMXUx7xuNpoFsCHHx91oUyqGroPntpAaA0U49jjvDZROo-Jafa1I6geVb2hrHauYdRR6KWP6XLRVvwZO6apWooleBA_EGJGirjY_I0SPi0Rlv-rGgNe2d2h8dJ1gvUcPCPMi29DnaQ0/s1600/fraksimol.png
F
Formal
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXqotRDxCwTSJhf9FgatwG25XffDIvP9uFb2ZjwaO65eHj85Bhk1bnyGE0lHEzZdyZXq1jNnihliHkABmYdBPknIdKH5Jtn_r9MFWxPYirqW3Tc0PJFIvgIcNHKvuc2b8wZcwMLhzTuP0/s1600/Formal.png
m
Molal
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaAXfPZHYcjLV9tMmuYeGMFnnguVHioqjLNfsxQQcPML-R_dqup0KPAC87aJqOR7IKgUdBXTDlYQOr_m_Vn3WbW-htmBuJ10fdXRk2tfAwN8XeBEhPzYeIjv1GaDn70CMMXW2-_rbHiWs/s1600/molal.png
N
Normal
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6I22v1u4AH08bj1Jh5vWNjQj0oTLqwkBHjfQDa2n5Bq7PAsC4zT2fFsj5sjfEJbQLhtZHpGRxvVU3uqDTGoOVNRkor_5fDmy-vePG97XI7zu2jDEdLhvwuKZSxePkd4J8DV_88O-BUWU/s1600/normal.png
m Eq
Mili ekuivalen
Seper seribu mol larutan
Osm
Osmolar
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdoS179lq5rC-NzAlvHAGySwKpaZBAeFPKVx7J2SVeOf1jsg7TToR8J5jRv9ZwCU0Zccpfn3ahGkCxPCWZ5iKn-hFHibkc80G84dBJzEb61Yq5_sXcP5TjEV_PGYXCXmVkUXz2uPyUIGk/s1600/osmolar.png
M
Molar
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtUKddqZQGTWZRl-K4EZTg0NT-4wRcg-iVXqY_jWqdcfBNzzSu78nVSoMfbbhQq9rvPDrEcNdrhFb0NUxGoxAZlRlQUfvNQPHfdlWSMhoUkZRct9ts4YeumCjbeqvss_EhMkoNwBSKVo4/s1600/molar.png

(hiskia Achmad, 2001)
1.   Fraksi mol adalah perbandingan dari jumlah mol dari suatu komponen dengan jumlah total mol dalam  larutan. Contoh, dalam larutan yang mengandung 1 mol alkohol dan 3 mol air, maka fraksi mol alkohol adalah ¼ dan air ¾ (syukri, 1999).
Jumlah kedua fraksimol (fraksi mol zat terlarut + fraksi mol pelarut) sama dengan 1 (Hoskia Achmad, 2007).
2.   Molaritas dari solute adalah jumlah mol solute perliter larutan dan biasanya dinyatakan dengan huruf besar M. larutan 6,0 molar HCl ditulis 6,0 M, bararti bahwa larutan dibuat dengan menambahkan 6,0 mol HCl pada air yang cukup dan kemudian volume larutan dibuat menjadi satu liter.
3.  Molalitas dari suatu solute adalah jumlah mol solute per satu kilogram solvent. Molalitas biasanya ditulis dengan hurup kecil m. Tulisan 6,0 m HCl dibaca 6,0 molal, dan menyatakan suatu larutan yang dibuat dengan menambahkan 6,0 mol HCl pada satu kilogram air.


4.  Normalitas dari suatu solute adalah jumlah gram ekuivalen solute per liter larutan.  Biasanya ditulis dengan huruf besar N. Tulisan 0,25 N KMnO4 dibaca 0,25 normal, dan menyatakan larutan yang mengandung 0,25 gram ekuifalen dari kalium permanganat per liter larutan.
5.  Persen dari solute dapat dinyatakan sebagai persen berat atau persen volume. Sebagai contoh, 3% berat H2O2 adalah 3 gram H2O2 tiap 100 gram larutan. Sedangkan 12% volulme adlah suatu larutan yang dibuat dari 12 ml alkohol dan solvent ditambahkan hingga volume menjadi 100 ml (syukri, 1999).
        Sifat fisik akuades :
0o
20o
50o
100o
Massa jenis (g/cm3)
0.99987
0.99823
0.9981
0.9584
Panas jenis (kal/g•oC)
1.0074
0.9988
0.9985
1.0069
Kalor uap (kal/g)
597.3
586.0
569.0
539.0
Konduktivitas termal (kal/cm•s•oC)
1.39 × 10-3
1.40 × 10-3
1.52 × 10-3
1.63 × 10-3
75.64
72.75
67.91
58.80
Laju viskositas (g/cm•s)
178.34 × 10-4
100.9 × 10-4
54.9 × 10-4
28.4 × 10-4
87.825
80.8
69.725
55.355
            











Sifat kimia akuades :
                        Akuades atau air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C).
Gaya tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini membuat masing-masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk dipisahkan dan yang pada akhirnya menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut sebagai ikatan hidrogen.
Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-).
        Sifat fisik NaCl :
-          rapuh (mudah hancur)
-          asin (garam dapur)
-          larut dalam air (air laut)
-          tidak bisa melewati selaput semipermeable
Sifat kimia NaCl :
-          bisa didapat dari reaksi NaOH dan HCl sehingga pHnya netral
-          ikatan ionik kuat (Na+) + (Cl-) selisih elektronegatifnya lebih dari 2
-          larutannya merupakan elektrolit kuat karena terionisasi sempurna pada air.
        Sifat fisik H2SO4 :
Walaupun asam sulfat yang mendekati 100% dapat dibuat, ia akan melepaskan SO3 pada titik didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. Asam sulfat 98% lebih stabil untuk disimpan, dan merupakan bentuk asam sulfat yang paling umum. Asam sulfat 98% umumnya disebut sebagai asam sulfat pekat. Terdapat berbagai jenis konsentrasi asam sulfat yang digunakan untuk berbagai keperluan:
-          10%, asam sulfat encer untuk kegunaan laboratorium,
-          33,53%, asam baterai,
-          62,18%, asam bilik atau asam pupuk,
-          73,61%, asam menara atau asam glover,
-          97%, asam pekat.
Asam sulfat murni berupa cairan bening seperti minyak, dan oleh karenanya pada zaman dahulu ia dinamakan 'minyak vitriol'.
Sifat kimia H2SO4 :
Reaksi hidrasi asam sulfat sangatlah eksotermik. Selalu tambahkan asam ke dalam air daripada air ke dalam asam. Air memiliki massa jenis yang lebih rendah daripada asam sulfat dan cenderung mengapung di atasnya, sehingga apabila air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, ia akan dapat mendidih dan bereaksi dengan keras. Reaksi yang terjadi adalah pembentukan ion hidronium:
H2SO4 + H2O → H3O+ + HSO4-
HSO4- + H2O → H3O+ + SO42-                 
Sebagai asam, asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan basa, menghasilkan garam sulfat. Sebagai contoh, garam tembaga tembaga(II) sulfat dibuat dari reaksi antara tembaga(II) oksida dengan asam sulfat:
CuO + H2SO4 → CuSO4 + H2O
Asam sulfat juga dapat digunakan untuk mengasamkan garam dan menghasilkan asam yang lebih lemah. Reaksi antara natrium asetat dengan asam sulfat akan menghasilkan asam asetat, CH3COOH, dan natrium bisulfat:
H2SO4 + CH3COONa → NaHSO4 + CH3COOH






BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1.   Alat dan Bahan
3.1.1  Alat :
-     Kaca arloji
-     Spatula
-     Neraca analitik
-     Labu takar 100 ml
-     Pipet tetes
-     Pipet ukur 10 ml
-     Bola hisap
-     Gelas ukur
-    Batang pengaduk
-    Gelas kimia 100 ml
-    Corong kaca
-     Termometer
3.1.2  Bahan-bahan
-    Akuades ( H2O )
-    H2SO4
-    NaCl
3.2   Prosedur percobaan
3.2.1  Pembuatan Larutan NaCl
-  Ditimbang 1 gram NaCl dengan menggunakan kaca arloji
-  Dipindahkan ke dalam gelas kimia (beaker glass)
-  Ditambahkan akuades secukupnya
-  Diaduk                                         
-  Dipindahkan ke dalam labu takar
-  Diencerkan hingga tanda batas pada labu takar
-  Dihomogenkan          
3.2.2  Pengenceran H2SO4
-  Dipipet 2.959 ml H2SO4 dengan pipet ukur
-  Dipindahkan ke labu takar yang sudah diberi H2O
-  Diencerkan dengan H2O hingga tanda batas
-  Ditutup labu takar tersebut dengan penutup khusus
-  Dihomogenkan















BAB 4
HASIL DAN PENGAMATAN

4.1  Hasil Pengamatan
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
Pembuatan Larutan NaCl
-          Ditimbang 1 gram NaCl dengan menggunakan kaca arloji dan neraca analitik

-          Dipindahkan ke dalam gelas kimia (beaker glass)




-          Ditambahkan akuades secukupnya

-          Diaduk





-          Dipindahkan ke dalam labu takar


-          Diencerkan hingga tanda batas pada labu takar


-          Dihomogenkan

Pada saat NaCl ditimbang dengan kaca arloji dengan berat sebesar 1.0095 gram, NaCl berbentuk serbuk dengan warna putih bersih dan tidak berbau.
Pada saat serbuk NaCl akan dipindahkan, serbuk NaCl tersebut menjadi lengket pada kaca arloji karena terlalu lama terpapar di udara sehingga serbuk yang menempel perlu di bilas dengan akuades.
Pada saat ditambahkan akuades maka volume dalam gelas kimia tersebut bertambah.
NaCl yang awalnya berbentuk serbuk setelah di tambahkan akuades lalu diaduk maka warna larutan menjadi bening karena serbuk telah menyatu dengan akuades saat diaduk dan larutan tersebut tidak berbau.
Bilas batang pengaduk dan gelas kimia, lalu pindahkan ke dalam labu takar bersama larutan NaCl tersebut. Larutan tersebut tidak berubah.
Larutan tersebut tidak berubah warna atau berubah bau tetapi volume saja yang bertambah karena penambahan hingga tanda batas.
Larutan NaCl setelah dihomogenkan didalam labu takar hasilnya adalah suhu larutan menjadi lebih dingin,  tampak gelembung – gelembung yang menunujukkan bahwa larutan aquades dan NaCl sudah bergabung atau bercampur dan disimpulkan jenis larutan tersebut adalah larutan homogen.
2.
Pengenceran  H2SO4
-          Dipipet 2.959 ml H2SO4 dengan pipet ukur





-          Dipindahkan ke labu takar yang sudah diberi H2O





-          Diencerkan dengan H2O hingga tanda batas


-          Ditutup labu takar tersebut dengan penutup khusus
-          Dihomogenkan

Larutan  H2SO4 pekat disedot menggunakan pipet ukur sebanyak 10 ml lalu diekresikan sebanyak 2.959 ml yang dibulatkan menjadi 3 ml. Larutan  H2SO4 pekat tersebut berwarna coklat pekat, berbentuk cairan dan berbau tidak sedap (menyengat).
Setelah larutan pekat  H2SO4 dimasukkan ke dalam labu takar yang sebelumnya ditambahkan akuades secukupnya terlebih dahulu, warna larutan tersebut berubah menjadi coklat muda bening dan bau tidak sedap sebelumnya menjadi berkurang.
Setelah ditambahkan akuades hingga tanda batasnya larutan tersebut tidak berubah kecuali volumenya yang bertambah.
Larutan tidak menunjukkan perubahan.

Setelah dihomogenkan, larutan tersebut menjadi agak bening dan keruh lalu apabila dibandingkan dengan larutan NaCl sebelumnya, suhu larutan H2SO4 ini lebih hangat dan disimpulkan bahwa larutan ini adalah larutan homogen.
       
4.2   Perhitungan
          4.2.1 Pembuatan Larutan NaCl
                   Diketahui :  Berat NaCl = 1.0095 gram
                                        Massa relatif NaCl = 58.5
                                        Volume NaCl = 100 ml
                   Ditanya : Molaritas NaCl ?
                   Jawab :
                            
               Maka molaritas NaCl adalam 0.17 M




          4.2.2 Pengenceran H2SO4
                   Diketahui :  Berat jenis (bj) H2SO4 = 1.84
                                        Massa relatif H2SO4 = 98
                                        Kadar persen H2SO4 = 90%
                                        M2 H2SO4 = 0.5 M
                                                     V2 H2SO4 = 100 ml
                   Ditanya : Molaritas H2SO4 dan V1 H2SO4?
                   Jawab :
                                                              Maka molaritas H2SO4 adalah 16.897 M

                   M1 .V1 =  M2 .V2
                          V1    = 2.959 ml
Maka dari perhitungan ini hasil 2.959 ml dipergunakan untuk volume H2SO4 yang akan dimasukkan dalam labu takar.

4.3  Pembahasan
        Hasil percobaan pembuatan larutan NaCl menunjukkan bahwa saat pembuatan NaCl yang awalnya berbentuk serbuk dan tidak berbau saat akan dimasukkan ke dalam gelas kimia serbuk NaCl tersebut menjadi agak lengket dikarenakan terlalu lama terpapar udara hingga sisa serbuk yang masih melekat di kaca arloji perlu dibilas lalu bilasan dan larutan yang di dalam gelas kimia tersebut dimasukkan labu takar dan tambahkan akuades hingga tanda batasnya. Larutan tersebut tidak berubah bau tetapi hanya bertambah volumenya. Setelah dihomogenkan suhu larutan tersebut menjadi lebih dingin, tampak gelembung – gelembung yang menunujukkan bahwa larutan aquades dan NaCl sudah bergabung atau bercampur dan disimpulkan jenis larutan tersebut adalah larutan homogen.
        Hasil percobaan saat pengenceran H2SO4 pekat sebanyak 2.959 ml yang berbentuk cairan, berwarna coklat pekat dan berbau tidak sedap (menyengat). Setelah larutan H2SO4 pekat dimasukkan kedalam labu takar yang sebelumnya telah diberi akuades secukupnya maka berubah warna menjadi coklat muda bening dan bau tidak sedap seperti sebelumnya berkurang. Lalu ditambahkan akuades hingga tanda batas dan labu takar ditutup dengan penutup khusus untuk dihomogenkan. Hasil yang terlihat adalah warna yang tadinya coklat pekat menjadi coklat muda agak bening dan keruh, apabila dibandingkan dengan larutan NaCl, suhu larutan H2SO4 ini lebih hangat, larutan tersebut dapat bereaksi dengan  aquades  yaitu munculnya gelembung – gelenbung dan suhu pada larutan tersebut menjadi berubah dan larutan H2SO4 ini bisa disimpulkan dengan larutan homogen.
Digunakan akuades sebagai pelarut dikarenakan akuades bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau yang tidak akan mempengaruhi senyawa lainnya, pH akuades pun 7 yaitu netral. Akuades sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Akuades pun mudah didapat dan harganya yang murah bila dibandingkan dengan pelarut lainnya.
Dalam pengenceran H2SO4 ditambahkan akuades terlebih dahulu dikarenakan prosedur untuk mengencerkan adalah dengan cara akuades ditambahkan terlebih dahulu lalu larutan H2SO4 dimasukkan. Apabila larutan H2SO4 dimasukkan terlebih dahulu maka akan terjadi reaksi keras atau akan mendidih (contoh : air yang diteteskan ke dalam minyak panas maka akan memercik) hal ini disebabkan adanya perbedaan massa jenis antara kedua zat.
Dalam penentuan konsentrasi NaCl menggunakan rumus  sedangkan pengenceran H2SO4 menggunakan rumus  dikarenakan pada NaCl yang diketahui hanya mol (dengan cara gram dibagi dengan Mr) dan volume saja, sedangkan pada H2SO4 yang diketahui hanya ada berat jenis, kadar persennya dan Mr nya (dengan cara menambahkan nilai masing masing atom) setelah mendapatkan molaritasnnya maka yang dicari adalah volumenya yang menggunakan rumus M1 .V1 =  M2 .V2
Perlakuan dalam praktikum ditimbang dikarenakan supaya massa berat yang akan dipergunakan itu akurat dan supaya sesuai dengan yang dianjurkan dalam praktikum dan diaduk dikarenakan supaya serbuk NaCl yang diencerkan dengan akuades tercampur rata, pengadukan menyebabkan partikel antara zat terlarut dengan pelarut akan semakin sering bertabrakan, hal ini menyebabkan proses pelarutan menjadi semakin cepat.
Faktor kesalahan dalam praktikum kali ini adalah pada saat menimbang serbuk NaCl kurang akurat dan teliti maka massa yang didapat 1.0095 gram, massa yang seharusnya didapat adalah tepat 1 gram. Dan pada saat pengenceran H2SO4 saat menambahkan akuades kedalam labu takar tidak akurat dan tidak teliti maka yang terjadi adalah terlalu banyak akuades yang ditambahkan hingga melebihi tanda batas dan karena kesalahan ini maka kami mengulang percobaan dari mengambil larutan H2SO4 pekat ulang dan melanjutkan percobaan.




BAB 5
PENUTUP

5.1   Kesimpulan
-      Pembuatan larutan NaCl dengan massa berat dan volume yang telah diketahui yaitu dengan menggunakan rumus . Bahan NaCl yang berupa serbuk yang diencerkan dengan akuades (sesuai prosedur pengenceran) lalu ditambahkan volumenya hingga 100 ml lalu dihomogenkan dan disimpulkan bahwa larutan NaCl adalah larutan homogen.
-      Pembuatan larutan H2SO4 dengan konsentrasi yang telah diketahui yaitu dengan menggunakan rumus      . Bahan H2SO4 yang berupa cairan pekat yang diencerkan dengan akuades (sesuai prosedur pengenceran) lalu ditambahkan volumenya hingga 100 ml lalu dihomogenkan dan disimpulkan bahwa larutan H2SO4 adalah larutan homogen.
-      Cara pembuatan larutan dari zat cair adalah dengan menambahkan akuades secukupnya terlebih dahulu sebelum memasukkan larutan H2SO4 pekat apabila cara pembuatan larutan dari zat padat juga sama yaitu dengan menambahkan akuades secukupnya terlebih dahulu sebelum memasukkan serbuk NaCl karena sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Perbedaannya hanya pada bahan praktikum dan konsentrasi.

5.2   Saran
Sebaiknya percobaan ini dilakukan dengan senyawa yang lebih, tidak hanya dengan menggunakan H2SO4 dan NaCl, agar hasilnya yang bisa diamati lebih beragam, contohnya dengan senyawa NaOH, CuSO4, HCl, KOH, HCN dan lain – lain.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Citra Aditya Bakti : Bandung
Annisanfushie.2008.PEMBUATAN LARUTAN.www.annisanfushie.wordpress.com. Diakses pada 15 Desember 2013 pukul 18.21 WITA
Anwar, Dedy.2011.LARUTAN.www.dedyanwarkimiaanalisa.blogspot.com. Diakses pada 15 Desember 2013 pukul 21.19 WITA
Baroroh, Umi L.U. 2004. Diktat Kimia Dasar 1. Universitas Lambung Mangkurat : Banjar Baru
Ceengineermu.2012.PEMBUATAN LARUTAN.www.ceengineermu.weebly.com. Diakses pada 15 Desember 2013 pukul 18.22 WITA
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Jilid 2 . Erlangga : Jakarta
Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Kartika : Surabaya
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitasn Indonesia : Jakarta
Petrucci, Ralph.H. 1987. Kimia Dasar Jilid 2. Erlangga : Jakarta
Prokim09.2010.CAMPURAN HOMOGEN DAN CAMPURAN HETEROGEN.www.prokim09.wordpress.com. Diakses pada 14 Desember 2013 pukul 7.20 WITA
Wikipedia.2013.AIR.www.wikipedia.org. Diakses pada 14 Desember 2013 pukul 7.23 WITA
Wanibesak.2010.PEMBUATAN PENGENCERAN DAN PENCAMPURAN LARUTAN.www.wanibesak.wordpress.com. Diakses pada 15 Desember 2013 pukul 10.56 WITA
Yahooanswers.2013.SIFAT FISIK NaCl.www.answers.yahoo.com. Diakses pada 14 Desember 2013 pukul 17.13 WITA

4 komentar: