Rabu, 22 Januari 2014

Laporan Stokiometri

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
            Reaksi kimia biasanya antara dua campuran zat. Reaksi kimia telah mempengaruhi kehidupan kita. Di alam sebagian besar reaksi berlangsung dalam larutan air.  Adapun contoh di kehidupan kita sehari-hari yang menggunakan  reaksi kimia seperti, makanan yang kita konsumsi setiap saat setelah dicerna diubah menjadi tenaga tubuh. Nitrogen dan hydrogen bergabung membentuk ammonia yang digunakan sebagai pupuk. Bahan bakar dan plastik dihasilkan oleh minyak bumi, pati tanaman dalam daun disintesis dan oleh pengaruh sinar matahari.
Pelajaran yang berkaitan dengan reaksi kimia lazim dikenal sebagai “stokiometri”. Stokiometri adalah bagian ilmu kimia yang mempelajar hubungan kunatitatif antara zat yang berkaitan dalam reaksi kimia. Bila senyawa dicampur untuk bereaksi maka sering tercampur secara kuantitatif stokiometri, artinya semua reaktan habis pada saat yang sama. Namun demikian terdapat suatu reaksi dimana salah satu reaktan habis, sedangkan yang lain masih tersisa. Reaktan yang habis disebut pereaksi pembatas. Dalam setiap persoalan stokiometri, perlu untuk menentukan reaktan yang mana yang terbatas untuk mengetahui jumlah produk yang dihasilkan.
Oleh karena itu percobaan stiokiometri ini dilakukan, diharapkan kita mengerti tentang pereaksi pembatas dan pereaksi sisa.

1.2   Tujuan Percobaan
-      Untuk mengetahui titik maksimum dan titik minimum dari campuran NaOH -  H2SO4,
-      Mengetahui suhu campuran dari larutan NaOH dengan larutan H2SO4,
-      Menentukan reaksi pembatas dan reaksi sisa pada percobaan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu stoiceon (unsur) dan metrein (mengukur). Stoikiometri berarti mengukur unsur-unsur dalam hal ini adalah partikel atom ion, molekul yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang terlibat dalam reaksi kimia. Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) yang didasarkan pada hukum-hukum dasar dan persamaan reaksi. (Ahmad,1985)
Stoikiometri beberapa reaksi dapat dipelajari dengan mudah, salah satunya dengan metode JOB atau metode Variasi Kontinu, yang mekanismenya yaitu dengan dilakukan pengamatan terhadap kuantitas molar pereaksi yang berubah-ubah, namun molar totalnya sama. Sifat fisika tertentunya (massa, volume, suhu, daya serap) diperiksa, dan perubahannya digunakan untuk meramal stoikiometri sistem. Dari grafik aluran sifat fisik terhadap kuantitas pereaksi, akan diperoleh titik maksimal atau minimal yang sesuai titik stoikiometri sistem, yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa. (Muhrudin, 2011)
Stoikiometri reaksi adalah penentuan perbandingan massa unsur-unsur dalam senyawa dalam pembentukan senyawanya. Pada perhitungan kimia secara stoikiometri, biasanya diperlukan hukum-hukum dasar ilmu kimia.(Brady,1986)
Hukum kimia adalah hukum alam yang relevan dengan bidang kimia. Konsep paling fundamental dalam kimia adalah hukum konservasi massa, yang menyatakan bahwa tidak terjadi perubahan kuantitas materi sewaktu reaksi kimia biasa. (Hiskia,1991)


Hukum-hukum dasar ilmu kimia adalah :
-        Hukum kekekalan massa
Hukum kekekalan massa ditemukan oleh Antonio Lauren Lavoisier (1785) yang berbunyi ”massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama”. Contoh larutan A terdiri dari perak nitrat 3,40 gram dan 25 ml air ditambahkan kedalam larutan B yang terdiri dari 3,92 gram kalium kromat dan 25 ml air. Pada pencampuran ini terjadi reaksi dan menghasilkan endapan coklat. Setelah selesai dan ditimbang ternyata bobot campuran larutan A dan B itu tetap, yaitu 57,32 gram. Berdasarkan hukum kekekalan massa cacah atom tiap unsur ( bersenyawa atau bebas) yang ada disebelah kiri tanda panah persis sama dengan cacah atom tiap unsur atau senyawa yang ada disebalah kanan.
-        Hukum perbandingan tetap
Setelah munculnya hukum kekekalan massa, maka sekitar tahun 1800 Josep Louis Proust melakukan penelitian tentang hubungan massa unsur-unsur yang membentuk senyawa. Hasil penelitannya menunjukkan perbandingan massa unsur-unsur yang menbentuk suatu senyawa tetap. Kemudian lahir hukum proust atau hukum perbandingan tetap yang berbunyi: “setiap senyawa terbentuk dari unsur-unsur dengan perbandingan tetap”.
-         Hukum perbandingan ganda
John Dalton tahun 1804 adalah orang yang pertama kali meneliti kasus adanya perbandingan tertentu suatu unsur-unsur yang dapat membentuk senyawa lebih dari satu, yang dikenal dengan nama hukum perbandingan tetap.Hukum Perbandingan Ganda berbunyi; “bila dua macam unsur yang sama banyaknya, massa unsur berikutnya dalam senyawa-senyawa itu akan berbanding  sebagai bilangan bulat positif dan sederhana”.




Contoh: pada senyawa antara nitrogen dan oksigen.
Senyawa
Bobot (gram)
Perbandingan massa oksigen untuk massa  nitrogen tetap
irogen
ksigen
Nitrogen monoksida
4
6
1  x  16
Nitrogen dioksida
4
2
2  x  16
Nitrogen trioksida
4
0
3  x  16
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa untuk massa nitrogen tetap maka  perbandingan oksigen dari ketiga tersebut adalah; 1 : 2 : 3
-         Hukum perbandingan volume
Hubungan antara volume dari gas-gas dalam reaksi kimia telah diselidiki oleh Joseph Louis Gay-Lussac dalam tahun 1905. Hasil penelitian ini lahir hukum perbandingan tetap yang berbunyi: volume gas-gas yang bereaksi, volume gas-gas hasil reaksi , bila diukur pada suhu dan tekanan yang tetap akan berbanding sebagai bilangan bilangan bulat dan sederhana.
-        Hukum Avogadro
Avogadro sangat tertarik mempelajari sifat gas dan pada tahun 1911 avogadro membuat hipotesis Avogadro yang berbunyi: pada suhu dan tekanan yang tetap, “semua gas yang volumenya sama akan mengandung mokelul yang sama cacahnya” (Syukri S 1999).
Reaksi stoikiometri adalah suatu pereaksi yang jika direaksikan akan habis tanpa sisa. Dan untuk reaksi non stoikiometri adalah pereaksi yang jika direaksikan maka akan bersisa. Reaksi eksoterm adalah reaksi yang membebaskan kalor atau energi dari system ke lingkungan, sedangkan reaksi endoterm adalah reaksi yang memerlukan kalor atau energi dari lingkungan ke system. Titik maksimum adalah titik ketika dimana reaksi mencapai keadaan stoikiometri, dan titik minimum adalah titik di mana reaksi mencapai keadaan non stoikiometri.
Reaksi pembatas adalah prediksi yang habis lebih dahulu apabila zat-zat yang direaksikan tidak ekuivalen, maka salah satu prediksi yang lain bersisa jumlah reaksi bergantung pada jumlah pereaksi yang habis terlebih dahulu. Reaksi sisa merupakan reaktan yang tidak habis bereaksi dan masih bersisa. Hubungan antara suhu dan reaksi stoikiometri adalah suhu akan mencapai titik maksimum atau nilai maksimum bila reaksi tersebut adalah reaksi stoikiometri.
Rumus empiris menyatakan perbandingan bilangan bulat terkecil dari atom-atom yang membentuk suatu senyawa, misalnya H2O2 mempunyai rumus  empiris HO.
Rumus molekul ialah rumus yang menyatakan jumlah atom – atom dari unsur – unsur yang menyusun satu molekul senyawa. Rumus molekul suatu zat merupakan kelipatan bilangan bulat rumus empiris. Untuk menentukan rumus molekul suatu zat, ahli kimia harus menentukan secara eksperimen bobot molekul disamping rumus empirisnya. Rumus molekul menunjukkan jumlah yang sesungguhnya dari atom masing-masing unsure yang menyusun satu molekul suatu senyawa. Rumus molekul dapat membedakan senyawa-senyawa yang mempunyai rumus empiris yang sama, misalnya formaldehida, asam asetat, gliseraldehida dan glukosa semuanya mempunyai rumus empiris CH2O, tetapi rumus molekulnya berlainan yaitu :
            Formaldehida  : CH2O            Gliseraldehida : C3H6O3
            Asam asetat     : C2H4O2             Glukosa           : C6H12O6


BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1.   Alat dan Bahan
3.1.1  Alat :
-     Pipet tetes
-     Gelas ukur 25 ml
-    Gelas kimia 100 ml
-     Termometer
3.1.2  Bahan-bahan
-    Akuades ( H2O )
-    Larutan  NaOH 0.5 M
-     Larutan H2SO4 0.5 M

3.2   Prosedur percobaan
3.2.1  Stiokiometri sistem NaOH - H2SO4
-   Dimasukkan berturut – turut 2.5 ml, 5 ml, 7.5 ml, 10 ml, 12.5 ml larutah NaOH ke dalam gelas ukur
-   Dimasukkan berturut – turut 2.5 ml, 5 ml, 7.5 ml, 10 ml, 12.5 ml larutah H2SO4 ke dalam gelas ukur yang lain
-   Dicampurkan larutan NaOH ke dalam larutan H2SO4 sehingga volumenya menjadi 15 ml
-   Diukur suhu campuran dari larutan NaOH dengan larutan H2SO4  tersebut


BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Pengamatan
Variabel
Volume NaOH
Volume H2SO4
Suhu Campuran (°C)
A
2.5 ml
12.5 ml
30°C
B
5 ml
10 ml
31°C
C
7.5 ml
7.5 ml
32°C
D
10 ml
5 ml
33°C
E
12.5 ml
2.5 ml
31°C

4.2  Reaksi
             2NaOH  +  H2SO4  Na2SO4  +  2H2O
4.3  Perhitungan
       4.3.1  Untuk 2.5 ml NaOH 0.5 M + 12.5 ml H2SO4 0.5 M
                 Diketahui : Molaritas NaOH = 0.5 M
                                    Volume NaOH = 2.5 ml                    
                                    Molaritas H2SO4 = 0.5 M
                                    Volume H2SO4 = 12.5 ml
                                    Mr Na2SO4 = 142
                 Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
                 Jawab :
                 Mol NaOH
n
=
M x V

=
0.5 x 2.5

=
1.25 mmol
                 Mol H2SO4
n
=
M x V

=
0.5 x 12.5

=
6.25 mmol



                 Stiokiometri sistem

2NaOH
+
H2SO4
Na2SO4
+
2H2O
m
1.25 mmol

6.25 mmol

-

-
b
1.25 mmol

0.625 mmol

0.625 mmol

1.25 mmol
s
-

5.625 mmol

0.625 mmol

1.25 mmol
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi non stiokiometri karena reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada yang menjadi reaksi sisanya yaitu H2SO4, reaksi pembatas yaitu NaOH dan massa garamnya adalah :
Massa Na2SO4
=
n x Mr

=
0.625 x 142

=
88.75 mg

=
88.75 x 10-3 g
4.3.2  Untuk 5 ml NaOH 0.5 M + 10 ml H2SO4 0.5 M
                 Diketahui : Molaritas NaOH = 0.5 M
                                    Volume NaOH = 2.5 ml                    
                                    Molaritas H2SO4 = 0.5 M
                                    Volume H2SO4 = 12.5 ml
                                    Mr Na2SO4 = 142
                 Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
                 Jawab :
                 Mol NaOH
n
=
M x V

=
0.5 x 5

=
2.5 mmol
                 Mol H2SO4
n
=
M x V

=
0.5 x 10

=
5 mmol

                 Stiokiometri sistem

2NaOH
+
H2SO4
Na2SO4
+
2H2O
m
2.5 mmol

5 mmol

-

-
b
2.5 mmol

1.25 mmol

1.25 mmol

2.5 mmol
s
-

3.75 mmol

1.25 mmol

2.5 mmol
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi non stiokiometri karena reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada yang menjadi reaksi sisanya yaitu H2SO4, reaksi pembatas yaitu NaOH dan massa garamnya adalah:
Massa Na2SO4
=
n x Mr

=
1.25 x 142

=
177.5 mg

=
177.5 x 10-3 g
4.3.3  Untuk 7.5 ml NaOH 0.5 M + 7.5 ml H2SO4 0.5 M
                 Diketahui : Molaritas NaOH = 0.5 M
                                    Volume NaOH = 7.5 ml                    
                                    Molaritas H2SO4 = 0.5 M
                                    Volume H2SO4 = 7.5 ml
                                    Mr Na2SO4 = 142
                 Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
                 Jawab :
                 Mol NaOH
n
=
M x V

=
0.5 x 7.5

=
3.75 mmol
                 Mol H2SO4
n
=
M x V

=
0.5 x 7.5

=
3.75 mmol


                 Stiokiometri sistem

2NaOH
+
H2SO4
Na2SO4
+
2H2O
m
3.75 mmol

3.75 mmol

-

-
b
3.75 mmol

1.875 mmol

1.875 mmol

3.75 mmol
s
-

1.875 mmol

1.875 mmol

3.75 mmol
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi non stiokiometri karena reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada yang menjadi reaksi sisanya yaitu H2SO4, reaksi pembatas yaitu NaOH dan massa garamnya adalah :
Massa Na2SO4
=
n x Mr

=
1.875 x 142

=
266.25 mg

=
266.25 x 10-3 g
4.3.4  Untuk 10 ml NaOH 0.5 M + 5 ml H2SO4 0.5 M
                 Diketahui : Molaritas NaOH = 0.5 M
                                                Volume NaOH = 10 ml                     
                                    Molaritas H2SO4 = 0.5 M
                                    Volume H2SO4 = 5 ml
                                    Mr Na2SO4 = 142
                 Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
                 Jawab :
                 Mol NaOH
n
=
M x V

=
0.5 x 10

=
5 mmol
                 Mol H2SO4
n
=
M x V

=
0.5 x 5

=
2.5 mmol

                  Stiokiometri sistem

2NaOH
+
H2SO4
Na2SO4
+
2H2O
m
5 mmol

2.5 mmol

-

-
b
5 mmol

2.5 mmol

2.5 mmol

5 mmol
s
-

-

2.5 mmol

5 mmol
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi stiokiometri karena reaktannya tidak bersisa atau semua reaktannya habis bereaksi dan massa garamnya adalah :
Massa Na2SO4
=
n x Mr

=
2.5 x 142

=
355 mg

=
355 x 10-3 g
       4.3.5  Untuk 12.5 ml NaOH 0.5 M + 2.5 ml H2SO4 0.5 M
                  Diketahui : Molaritas NaOH = 0.5 M
                                     Volume NaOH = 12.5 ml                  
                                     Molaritas H2SO4 = 0.5 M
                                     Volume H2SO4 = 2.5 ml
                                     Mr Na2SO4 = 142
                   Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
                   Jawab :
                    Mol NaOH
n
=
M x V

=
0.5 x 12.5

=
6.25 mmol
                    Mol H2SO4
n
=
M x V

=
0.5 x 2.5

=
1.25 mmol


                 Stiokiometri sistem

2NaOH
+
H2SO4
Na2SO4
+
2H2O
m
6.25 mmol

1.25 mmol

-

-
b
1.25 mmol

0.625 mmol

0.625 mmol

1.25 mmol
s
-

0.625 mmol

0.625 mmol

1.25 mmol
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi non stiokiometri karena reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada yang menjadi reaksi sisanya yaitu H2SO4, reaksi pembatas yaitu NaOH dan massa garamnya adalah :
Massa Na2SO4
=
n x Mr

=
0.625 x 142

=
88.75 mg

=
88.75 x 10-3 g

4.4  Grafik


Keterangan :
A = 2.5 ml NaOH 0.5 M + 12.5 ml H2SO4 0.5 M
B = 5 ml NaOH 0.5 M + 10 ml H2SO4 0.5 M
C = 7.5 ml NaOH 0.5 M + 7.5 ml H2SO4 0.5 M
D = 10 ml NaOH 0.5 M + 5 ml H2SO4 0.5 M
E = 12.5 ml NaOH 0.5 M + 2.5 ml H2SO4 0.5 M
                       
4.5  Pembahasan
Hasil percobaan pencampuran larutan antara larutan NaOH yang dimasukkan berturut – turut 2.5 ml, 5 ml, 7.5 ml, 10 ml, 12.5 ml ke dalam gelas ukur dengan larutan H2SO4 yang dimasukkan berturut – turut 2.5 ml, 5 ml, 7.5 ml, 10 ml, 12.5 ml pula ke dalam gelas ukur yang lain lalu dicampurkannya larutan NaOH ke dalam larutan H2SO4 sehingga volumenya menjadi 15 ml setelah itu diukur suhu campuran dari larutan NaOH dengan larutan H2SO4 tersebut maka yang terjadi adalah adanya kenaikan dan penurunan suhu. Jenis reaksi pada praktikum ini ada dua yaitu reaksi stiokiometri dan non stiokiometri, reaksi ini berpengaruh pada ada atau tidaknya reaksi pembatas dan reaksi sisa. Reaksi pembatas adalah reaktan yang habis lebih dahulu. Reaksi sisa merupakan reaktan yang tidak habis bereaksi dan masih bersisa.
Reaksi stoikiometri adalah reaksi yang reaktannya tidak bersisa atau semua reaktannya habis bereaksi. Pada sistem NaOH - H­2SO4 yang merupakan reaksi stoikiometri terdapat pada volume 10 ml NaOH dengan volume 5 ml H2SO4.
Reaksi non stokiometri adalah reaksi yang salah satu reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada yang menjadi reaksi pembatas. Pada sistem NaOH – H2SO4 yang merupakan reaksi non stoikiometri adalah 2.5 ml NaOH dengan 12.5 ml H2SO4, 5 ml NaOH dengan 10 ml H2SO4, 7.5 ml NaOH dengan 7.5 ml H2SO4 dan 12.5 mL NaOH dengan 2.5 mL H2SO4.
Titik maksimum dan  titik minimum pada sistem NaOH – H2SO4 adalah titik maksimum yaitu 33°C pada campuran keempat (D) dengan perbandingan volume 10 ml - 5 ml dan titik minimum yaitu 30°C pada campuran pertama (A) dengan perbandingan volume 2.5 ml – 12.5 ml.
Reaksi eksoterm yaitu reaksi yang membebaskan kalor, kalor mengalir dari sistem ke lingkungan (terjadi penurunan entalpi), entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi. Oleh karena itu, perubahan entalpinya bertanda negatif.  Pada reaksi eksoterm umumnya suhu sistem menjadi naik, adanya kenaikan suhu inilah yang menyebabkan sistem melepas kalor ke lingkungan.
Reaksi eksoterm: DH = HP - HR < 0 atau DH = (-)
Reaksi endoterm yaitu reaksi yang memerlukan kalor, kalor mengalir dari lingkungan ke sistem (terjadi kenaikan entalpi), entalpi produk lebih besar daripada entalpi pereaksi. Oleh karena itu, perubahan entalpinya bertanda positif. Pada reaksi endoterm umumnya suhu sistem terjadi penurunan, adanya penurunan suhu inilah yang menyebabkan sistem menyerap kalor dari lingkungan.
Reaksi endoterm: DH = HP - HR > 0 atau DH = (+)
Fungsi perlakuan pengukuran suhu menggunakan termometer untuk mendapatkan hasil lebih akurat dan dapat mengetahui bila adanya kenaikan suhu atau penurunan suhu pada campuran larutan pada percobaan diatas.
Faktor kesalahan yaitu kurang tepatnya dalam mengukur volume larutan sehingga saat pengukuran harus mengulanginya lagi dan termometer yang selalu menempel ke dinding atau kaca gelas sehingga membuat praktikan memegang ujungnya. Hal ini menyebabkan suhu pada termometer terganggu pada suhu badan.


BAB 5
PENUTUP

5.1   Kesimpulan
-      Titik maksimum dan  titik minimum pada sistem NaOH – H2SO4 adalah titik maksimum yaitu 33°C pada campuran keempat (D) dengan perbandingan volume 10 ml - 5 ml dan titik minimum yaitu 30°C pada campuran pertama (A) dengan perbandingan volume 2.5 ml – 12.5 ml.
-      Pada sistem NaOH – H­2SO4,  suhu campuran dari  reaksi 2.5 ml NaOH dengan 12.5 ml H­2SO4 yaitu 30°C, reaksi 5 ml NaOH dengan 10 ml H2SO4 yaitu 31°C, reaksi 7.5 ml NaOH dengan 7.5 ml H­2SO4 yaitu 32°C, reaksi 10 ml NaOH dengan 5 ml H­2SO4 yaitu 33°C dan  reaksi 12.5 ml NaOH dengan 2.5 ml H­2SO4 yaitu 31°C
-      Pada sistem NaOH – H­2SO4,  2.5 ml NaOH dengan 12.5 ml H­2SO4 , 5 ml NaOH dengan 10 ml H­2SO4 , dan 7.5 ml NaOH dengan 7.5 ml H­2SO4 reaksi pembatasnya adalah NaOH dan reaksi sisanya adalah 2SO4, sedangkan dalam 10 ml NaOH dengan 5 ml H­2SO4 tidak ada reaksi pembatas dan  reaksi sisa, 12.5 ml NaOH dengan 2.5 ml H­2SO4 reaksi pembatasnya adalah H­2SO4. Dan reaksi sisanya adalah NaOH.

5.2   Saran
     Sebaiknya percobaan ini dilakukan dengan senyawa yang lebih, tidak hanya dengan   menggunakan NaOH dan H2SO4 ,agar hasilnya yang bisa diamati lebih beragam, contohnya dengan larutan Na2CO3 – HCl atau KOH – CH3COOH.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Hiskia. 1985. Kimia Dasar (modul 1-5). Jakarta : UT
Aphiin.Blog.2012.LAPORAN STIOKIOMETRI.www.fileq.wordpress.com. Diakses pada 17 Desember 2013 pukul 17.55 WITA
Brady, J.E.1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid Satu.Binarupa Aksara:Jakarta
Brady, J.E dan Humiston. 1986. General Chemistry. New York: John Willey and Sons.
Hiskia, A dan Tupamahu. 1991. Stoikiometri Energi Kimia. Bandung: ITB Press.
Muhrudin, Udin. 2011. Praktikum Stoikiometri Reaksi. http://chemistapolban.blogspot.com/ 2011/06/praktikum-stoikiometri-reaksi.html. Diakses tanggal 17 Desember 2013 pukul 22.51 WITA
Luthfiya-blog.2012.LAPORANPRAKTIKUM KIMIA DASAR.www.luthfiya-blog.blogspot.com. Diakses pada 17 Desember 2013 pukul 22.51 WITA
Sri Ayu, Risma.2012.LAPORAN MINGGUAN STOIKIOMETRI.www.rismaayushy.blogspot.com. Diakses  pada 17 Desember 2013 pukul 17.55 WITA
Trie Wahyuni, Ita.2012.LAPORAN KIMIA DASAR II STOIKIOMETRI.www.itatrie.blogspot.com. Diakses pada 17 Desember 2013 pukul 17.33 WITA