BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Reaksi kimia biasanya antara dua campuran zat. Reaksi kimia telah mempengaruhi kehidupan kita. Di
alam sebagian besar reaksi berlangsung dalam larutan air. Adapun
contoh di kehidupan kita sehari-hari yang menggunakan reaksi kimia seperti, makanan yang kita
konsumsi setiap saat setelah dicerna diubah menjadi tenaga tubuh. Nitrogen dan
hydrogen bergabung membentuk ammonia yang digunakan sebagai pupuk. Bahan bakar
dan plastik dihasilkan oleh minyak bumi, pati tanaman dalam daun disintesis dan
oleh pengaruh sinar matahari.
Pelajaran yang
berkaitan dengan reaksi kimia lazim dikenal sebagai “stokiometri”. Stokiometri adalah
bagian ilmu kimia yang mempelajar hubungan kunatitatif antara zat yang
berkaitan dalam reaksi kimia. Bila
senyawa dicampur untuk bereaksi maka sering tercampur secara kuantitatif
stokiometri, artinya semua reaktan habis pada saat yang sama. Namun demikian
terdapat suatu reaksi dimana salah satu reaktan habis, sedangkan yang lain
masih tersisa. Reaktan yang habis disebut pereaksi pembatas. Dalam setiap
persoalan stokiometri, perlu untuk menentukan reaktan yang mana yang terbatas
untuk mengetahui jumlah produk yang dihasilkan.
Oleh karena itu
percobaan stiokiometri ini
dilakukan, diharapkan
kita mengerti
tentang pereaksi pembatas dan pereaksi sisa.
1.2 Tujuan Percobaan
- Untuk mengetahui titik maksimum dan
titik minimum dari campuran NaOH - H2SO4,
- Mengetahui suhu campuran dari larutan NaOH dengan
larutan H2SO4,
- Menentukan
reaksi pembatas dan reaksi sisa pada percobaan.
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
Stoikiometri
berasal dari bahasa Yunani yaitu stoiceon
(unsur) dan metrein (mengukur).
Stoikiometri berarti mengukur unsur-unsur dalam hal ini adalah partikel atom
ion, molekul yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang terlibat dalam reaksi
kimia. Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan
kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia)
yang didasarkan pada hukum-hukum dasar dan persamaan reaksi. (Ahmad,1985)
Stoikiometri
beberapa reaksi dapat dipelajari dengan mudah, salah satunya dengan metode JOB
atau metode Variasi Kontinu, yang mekanismenya yaitu dengan dilakukan pengamatan terhadap
kuantitas molar pereaksi yang berubah-ubah, namun molar totalnya sama. Sifat
fisika tertentunya (massa, volume, suhu, daya serap) diperiksa, dan perubahannya
digunakan untuk meramal stoikiometri sistem. Dari grafik aluran sifat fisik
terhadap kuantitas pereaksi, akan diperoleh titik maksimal atau minimal yang
sesuai titik stoikiometri sistem, yang menyatakan perbandingan
pereaksi-pereaksi dalam senyawa. (Muhrudin, 2011)
Stoikiometri reaksi adalah penentuan perbandingan
massa unsur-unsur dalam senyawa dalam pembentukan senyawanya. Pada perhitungan
kimia secara stoikiometri, biasanya diperlukan hukum-hukum dasar ilmu
kimia.(Brady,1986)
Hukum kimia adalah
hukum alam yang relevan dengan bidang kimia. Konsep paling fundamental dalam
kimia adalah hukum konservasi massa, yang menyatakan bahwa tidak terjadi
perubahan kuantitas materi sewaktu reaksi kimia biasa. (Hiskia,1991)
Hukum-hukum dasar ilmu kimia adalah :
-
Hukum kekekalan massa
Hukum
kekekalan massa ditemukan oleh Antonio Lauren Lavoisier (1785) yang berbunyi ”massa
zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama”. Contoh larutan A terdiri dari
perak nitrat 3,40 gram dan 25 ml air ditambahkan kedalam larutan B yang terdiri
dari 3,92 gram kalium kromat dan 25 ml air. Pada pencampuran ini terjadi reaksi
dan menghasilkan endapan coklat. Setelah selesai dan ditimbang ternyata bobot
campuran larutan A dan B itu tetap, yaitu 57,32 gram. Berdasarkan hukum kekekalan massa
cacah atom tiap unsur ( bersenyawa atau bebas) yang ada disebelah kiri tanda
panah persis sama dengan cacah atom tiap unsur atau senyawa yang ada disebalah
kanan.
-
Hukum perbandingan tetap
Setelah
munculnya hukum kekekalan massa, maka sekitar tahun 1800 Josep Louis Proust
melakukan penelitian tentang hubungan massa unsur-unsur yang membentuk senyawa.
Hasil penelitannya menunjukkan perbandingan massa unsur-unsur yang menbentuk
suatu senyawa tetap. Kemudian lahir hukum proust atau hukum perbandingan tetap
yang berbunyi: “setiap senyawa terbentuk dari unsur-unsur dengan perbandingan
tetap”.
-
Hukum perbandingan
ganda
John
Dalton tahun 1804 adalah orang yang pertama kali meneliti kasus adanya
perbandingan tertentu suatu unsur-unsur yang dapat membentuk senyawa lebih dari
satu, yang dikenal dengan nama hukum perbandingan tetap.Hukum Perbandingan
Ganda berbunyi; “bila dua macam unsur yang sama banyaknya, massa unsur
berikutnya dalam senyawa-senyawa itu akan berbanding sebagai bilangan
bulat positif dan sederhana”.
Contoh:
pada senyawa antara nitrogen dan oksigen.
|
Senyawa
|
Bobot
(gram)
|
Perbandingan massa oksigen untuk
massa nitrogen tetap
|
|
|
irogen
|
ksigen
|
||
|
Nitrogen monoksida
|
4
|
6
|
1 x 16
|
|
Nitrogen dioksida
|
4
|
2
|
2 x 16
|
|
Nitrogen trioksida
|
4
|
0
|
3 x 16
|
Dari
contoh di atas dapat dilihat bahwa untuk massa nitrogen tetap maka
perbandingan oksigen dari ketiga tersebut adalah; 1 : 2 : 3
-
Hukum perbandingan
volume
Hubungan
antara volume dari gas-gas dalam reaksi kimia telah diselidiki oleh Joseph
Louis Gay-Lussac dalam tahun 1905. Hasil penelitian ini lahir hukum
perbandingan tetap yang berbunyi: volume gas-gas yang bereaksi, volume gas-gas
hasil reaksi , bila diukur pada suhu dan tekanan yang tetap akan berbanding
sebagai bilangan bilangan bulat dan sederhana.
-
Hukum Avogadro
Avogadro sangat tertarik mempelajari
sifat gas dan pada tahun 1911 avogadro membuat hipotesis Avogadro yang
berbunyi: pada suhu dan tekanan yang tetap, “semua gas yang volumenya sama akan
mengandung mokelul yang sama cacahnya” (Syukri S 1999).
Reaksi stoikiometri adalah suatu pereaksi yang jika direaksikan akan habis
tanpa sisa. Dan untuk reaksi non stoikiometri adalah pereaksi yang jika
direaksikan maka akan bersisa. Reaksi eksoterm adalah reaksi yang membebaskan
kalor atau energi dari system ke lingkungan, sedangkan reaksi endoterm adalah
reaksi yang memerlukan kalor atau energi dari lingkungan ke system. Titik
maksimum adalah titik ketika dimana reaksi mencapai keadaan stoikiometri, dan
titik minimum adalah titik di mana reaksi mencapai keadaan non stoikiometri.
Reaksi pembatas adalah prediksi yang habis lebih dahulu apabila zat-zat
yang direaksikan tidak ekuivalen, maka salah satu prediksi yang lain bersisa
jumlah reaksi bergantung pada jumlah pereaksi yang habis terlebih dahulu.
Reaksi sisa merupakan reaktan yang tidak habis bereaksi dan masih bersisa. Hubungan
antara suhu dan reaksi stoikiometri adalah suhu akan mencapai titik maksimum
atau nilai maksimum bila reaksi tersebut adalah reaksi stoikiometri.
Rumus
empiris menyatakan perbandingan bilangan bulat terkecil dari atom-atom yang
membentuk suatu senyawa, misalnya H2O2 mempunyai
rumus empiris HO.
Rumus
molekul ialah rumus yang menyatakan jumlah atom – atom dari unsur – unsur yang
menyusun satu molekul senyawa. Rumus
molekul suatu zat merupakan kelipatan bilangan bulat rumus empiris. Untuk
menentukan rumus molekul suatu zat, ahli kimia harus menentukan secara
eksperimen bobot molekul disamping rumus empirisnya. Rumus molekul menunjukkan jumlah yang sesungguhnya dari atom masing-masing
unsure yang menyusun satu molekul suatu senyawa. Rumus molekul dapat membedakan
senyawa-senyawa yang mempunyai rumus empiris yang sama, misalnya formaldehida,
asam asetat, gliseraldehida dan glukosa semuanya mempunyai rumus empiris CH2O,
tetapi rumus molekulnya berlainan yaitu :
Formaldehida : CH2O
Gliseraldehida : C3H6O3
Asam
asetat : C2H4O2
Glukosa
: C6H12O6
BAB
3
METODOLOGI
PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1 Alat :
- Pipet tetes
- Gelas ukur 25 ml
- Gelas kimia 100 ml
- Termometer
3.1.2 Bahan-bahan
- Akuades ( H2O
)
- Larutan NaOH 0.5 M
- Larutan H2SO4 0.5 M
3.2 Prosedur percobaan
3.2.1 Stiokiometri
sistem NaOH - H2SO4
- Dimasukkan
berturut – turut 2.5 ml, 5 ml, 7.5 ml, 10 ml, 12.5 ml larutah NaOH ke dalam
gelas ukur
- Dimasukkan
berturut – turut 2.5 ml, 5 ml, 7.5 ml, 10 ml, 12.5 ml larutah H2SO4
ke dalam gelas ukur yang lain
- Dicampurkan
larutan NaOH ke dalam larutan H2SO4 sehingga volumenya
menjadi 15 ml
- Diukur suhu campuran dari larutan NaOH dengan
larutan H2SO4 tersebut
BAB
4
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
|
Variabel
|
Volume NaOH
|
Volume H2SO4
|
Suhu Campuran (°C)
|
|
A
|
2.5 ml
|
12.5 ml
|
30°C
|
|
B
|
5 ml
|
10 ml
|
31°C
|
|
C
|
7.5 ml
|
7.5 ml
|
32°C
|
|
D
|
10 ml
|
5 ml
|
33°C
|
|
E
|
12.5 ml
|
2.5 ml
|
31°C
|
4.2 Reaksi
2NaOH + H2SO4 → Na2SO4 + 2H2O
4.3 Perhitungan
4.3.1 Untuk 2.5
ml NaOH 0.5 M + 12.5 ml H2SO4
0.5 M
Diketahui : Molaritas NaOH =
0.5 M
Volume
NaOH = 2.5 ml
Molaritas H2SO4 = 0.5 M
Volume H2SO4 = 12.5 ml
Mr Na2SO4 = 142
Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
Jawab :
Mol NaOH
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 2.5
|
|
|
=
|
1.25 mmol
|
Mol H2SO4
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 12.5
|
|
|
=
|
6.25 mmol
|
|
|
|
|
Stiokiometri
sistem
|
|
2NaOH
|
+
|
H2SO4
|
→
|
Na2SO4
|
+
|
2H2O
|
|
m
|
1.25 mmol
|
|
6.25 mmol
|
|
-
|
|
-
|
|
b
|
1.25 mmol
|
|
0.625 mmol
|
|
0.625 mmol
|
|
1.25 mmol
|
|
s
|
-
|
|
5.625 mmol
|
|
0.625 mmol
|
|
1.25 mmol
|
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi non
stiokiometri karena reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada
yang menjadi reaksi sisanya yaitu H2SO4, reaksi pembatas
yaitu NaOH dan massa garamnya adalah :
|
Massa Na2SO4
|
=
|
n x Mr
|
|
|
=
|
0.625 x 142
|
|
|
=
|
88.75 mg
|
|
|
=
|
88.75 x 10-3
g
|
4.3.2 Untuk 5
ml NaOH 0.5 M + 10 ml H2SO4
0.5 M
Diketahui : Molaritas NaOH =
0.5 M
Volume
NaOH = 2.5 ml
Molaritas H2SO4 = 0.5 M
Volume H2SO4 = 12.5 ml
Mr Na2SO4 = 142
Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
Jawab :
Mol NaOH
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 5
|
|
|
=
|
2.5 mmol
|
Mol H2SO4
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 10
|
|
|
=
|
5 mmol
|
Stiokiometri
sistem
|
|
2NaOH
|
+
|
H2SO4
|
→
|
Na2SO4
|
+
|
2H2O
|
|
m
|
2.5 mmol
|
|
5 mmol
|
|
-
|
|
-
|
|
b
|
2.5 mmol
|
|
1.25 mmol
|
|
1.25 mmol
|
|
2.5 mmol
|
|
s
|
-
|
|
3.75 mmol
|
|
1.25 mmol
|
|
2.5 mmol
|
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi non
stiokiometri karena reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada
yang menjadi reaksi sisanya yaitu H2SO4, reaksi pembatas
yaitu NaOH dan massa garamnya adalah:
|
Massa Na2SO4
|
=
|
n x Mr
|
|
|
=
|
1.25 x 142
|
|
|
=
|
177.5 mg
|
|
|
=
|
177.5 x 10-3
g
|
4.3.3 Untuk 7.5
ml NaOH 0.5 M + 7.5 ml H2SO4
0.5 M
Diketahui : Molaritas NaOH =
0.5 M
Volume
NaOH = 7.5 ml
Molaritas H2SO4 = 0.5 M
Volume H2SO4 = 7.5 ml
Mr Na2SO4 = 142
Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
Jawab :
Mol NaOH
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 7.5
|
|
|
=
|
3.75 mmol
|
Mol H2SO4
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 7.5
|
|
|
=
|
3.75 mmol
|
Stiokiometri
sistem
|
|
2NaOH
|
+
|
H2SO4
|
→
|
Na2SO4
|
+
|
2H2O
|
|
m
|
3.75 mmol
|
|
3.75 mmol
|
|
-
|
|
-
|
|
b
|
3.75 mmol
|
|
1.875 mmol
|
|
1.875 mmol
|
|
3.75 mmol
|
|
s
|
-
|
|
1.875 mmol
|
|
1.875 mmol
|
|
3.75 mmol
|
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi non
stiokiometri karena reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada
yang menjadi reaksi sisanya yaitu H2SO4, reaksi pembatas
yaitu NaOH dan massa garamnya adalah :
|
Massa Na2SO4
|
=
|
n x Mr
|
|
|
=
|
1.875 x 142
|
|
|
=
|
266.25 mg
|
|
|
=
|
266.25 x 10-3
g
|
4.3.4 Untuk 10
ml NaOH 0.5 M + 5 ml H2SO4
0.5 M
Diketahui : Molaritas NaOH =
0.5 M
Volume
NaOH = 10 ml
Molaritas H2SO4 = 0.5 M
Volume H2SO4 = 5 ml
Mr Na2SO4 = 142
Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
Jawab :
Mol NaOH
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 10
|
|
|
=
|
5 mmol
|
Mol H2SO4
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 5
|
|
|
=
|
2.5 mmol
|
Stiokiometri sistem
|
|
2NaOH
|
+
|
H2SO4
|
→
|
Na2SO4
|
+
|
2H2O
|
|
m
|
5 mmol
|
|
2.5 mmol
|
|
-
|
|
-
|
|
b
|
5 mmol
|
|
2.5 mmol
|
|
2.5 mmol
|
|
5 mmol
|
|
s
|
-
|
|
-
|
|
2.5 mmol
|
|
5 mmol
|
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi
stiokiometri karena reaktannya tidak bersisa atau semua
reaktannya habis bereaksi dan massa
garamnya adalah :
|
Massa Na2SO4
|
=
|
n x Mr
|
|
|
=
|
2.5 x 142
|
|
|
=
|
355 mg
|
|
|
=
|
355 x 10-3
g
|
4.3.5 Untuk 12.5
ml NaOH 0.5 M + 2.5 ml H2SO4
0.5 M
Diketahui : Molaritas NaOH = 0.5 M
Volume NaOH = 12.5 ml
Molaritas H2SO4 = 0.5 M
Volume H2SO4 = 2.5 ml
Mr Na2SO4 = 142
Ditanya : Mol NaOH dan Mol H2SO4 ?
Jawab :
Mol NaOH
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 12.5
|
|
|
=
|
6.25 mmol
|
Mol H2SO4
|
n
|
=
|
M x V
|
|
|
=
|
0.5 x 2.5
|
|
|
=
|
1.25 mmol
|
Stiokiometri
sistem
|
|
2NaOH
|
+
|
H2SO4
|
→
|
Na2SO4
|
+
|
2H2O
|
|
m
|
6.25 mmol
|
|
1.25 mmol
|
|
-
|
|
-
|
|
b
|
1.25 mmol
|
|
0.625 mmol
|
|
0.625 mmol
|
|
1.25 mmol
|
|
s
|
-
|
|
0.625 mmol
|
|
0.625 mmol
|
|
1.25 mmol
|
Maka jenis reaksi untuk reaksi ini adalah reaksi non
stiokiometri karena reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada
yang menjadi reaksi sisanya yaitu H2SO4, reaksi pembatas
yaitu NaOH dan massa garamnya adalah :
|
Massa Na2SO4
|
=
|
n x Mr
|
|
|
=
|
0.625 x 142
|
|
|
=
|
88.75 mg
|
|
|
=
|
88.75 x 10-3
g
|
4.4 Grafik

Keterangan :
A = 2.5
ml NaOH 0.5 M + 12.5 ml H2SO4
0.5 M
B = 5
ml NaOH 0.5 M + 10 ml H2SO4
0.5 M
C = 7.5
ml NaOH 0.5 M + 7.5 ml H2SO4
0.5 M
D = 10
ml NaOH 0.5 M + 5 ml H2SO4
0.5 M
E = 12.5
ml NaOH 0.5 M + 2.5 ml H2SO4
0.5 M
4.5 Pembahasan
Hasil percobaan pencampuran
larutan antara larutan NaOH yang dimasukkan berturut – turut 2.5 ml, 5
ml, 7.5 ml, 10 ml, 12.5 ml ke dalam gelas ukur dengan larutan H2SO4 yang dimasukkan berturut – turut 2.5
ml, 5 ml, 7.5 ml, 10 ml, 12.5 ml pula ke dalam gelas ukur yang lain
lalu dicampurkannya larutan NaOH ke dalam larutan H2SO4 sehingga
volumenya menjadi 15 ml setelah itu diukur suhu campuran dari larutan NaOH
dengan larutan H2SO4 tersebut maka yang terjadi adalah
adanya kenaikan dan penurunan suhu. Jenis reaksi pada praktikum ini ada dua
yaitu reaksi stiokiometri dan non stiokiometri, reaksi ini berpengaruh pada ada
atau tidaknya reaksi pembatas dan reaksi sisa. Reaksi pembatas adalah reaktan yang habis
lebih dahulu. Reaksi sisa
merupakan reaktan yang tidak habis bereaksi dan masih bersisa.
Reaksi
stoikiometri adalah reaksi yang reaktannya tidak bersisa atau semua reaktannya
habis bereaksi. Pada sistem NaOH - H2SO4
yang merupakan reaksi stoikiometri terdapat pada volume 10
ml NaOH dengan volume 5
ml H2SO4.
Reaksi non stokiometri adalah reaksi yang
salah satu reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada yang
menjadi reaksi pembatas. Pada sistem NaOH – H2SO4 yang
merupakan reaksi non stoikiometri adalah 2.5 ml NaOH dengan 12.5 ml H2SO4,
5 ml NaOH dengan 10 ml H2SO4, 7.5 ml NaOH dengan 7.5 ml H2SO4
dan 12.5 mL NaOH dengan 2.5 mL H2SO4.
Titik
maksimum dan titik minimum pada
sistem NaOH – H2SO4 adalah titik maksimum yaitu 33°C pada campuran
keempat (D) dengan perbandingan volume 10 ml - 5 ml dan titik
minimum yaitu 30°C
pada campuran pertama (A) dengan
perbandingan volume 2.5 ml – 12.5 ml.
Reaksi eksoterm yaitu reaksi yang
membebaskan kalor, kalor mengalir dari sistem ke lingkungan (terjadi penurunan
entalpi), entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi. Oleh karena
itu, perubahan entalpinya bertanda negatif. Pada reaksi eksoterm umumnya
suhu sistem menjadi naik, adanya kenaikan suhu inilah yang menyebabkan sistem
melepas kalor ke lingkungan.
Reaksi eksoterm: DH = HP -
HR < 0 atau DH = (-)
Reaksi endoterm yaitu reaksi yang
memerlukan kalor, kalor mengalir dari lingkungan ke sistem (terjadi kenaikan entalpi),
entalpi produk lebih besar daripada entalpi pereaksi. Oleh karena itu,
perubahan entalpinya bertanda positif. Pada reaksi endoterm umumnya suhu sistem
terjadi penurunan, adanya penurunan suhu inilah yang menyebabkan sistem
menyerap kalor dari lingkungan.
Reaksi endoterm: DH = HP -
HR > 0 atau DH = (+)
Fungsi perlakuan pengukuran suhu
menggunakan termometer untuk mendapatkan hasil lebih akurat dan dapat
mengetahui bila adanya kenaikan suhu atau penurunan suhu pada campuran larutan
pada percobaan diatas.
Faktor kesalahan yaitu kurang tepatnya
dalam mengukur volume larutan sehingga saat pengukuran harus mengulanginya lagi
dan termometer yang selalu menempel ke dinding atau kaca gelas sehingga membuat
praktikan memegang ujungnya. Hal ini menyebabkan suhu pada termometer terganggu
pada suhu badan.
BAB
5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
- Titik maksimum dan titik
minimum pada sistem NaOH – H2SO4 adalah titik maksimum yaitu 33°C pada campuran
keempat (D) dengan perbandingan volume 10 ml - 5 ml dan titik
minimum yaitu 30°C
pada campuran pertama (A) dengan
perbandingan volume 2.5 ml – 12.5 ml.
- Pada sistem NaOH – H2SO4, suhu campuran dari reaksi 2.5
ml NaOH dengan 12.5 ml H2SO4
yaitu 30°C, reaksi 5 ml NaOH dengan 10 ml H2SO4
yaitu 31°C, reaksi 7.5
ml NaOH dengan 7.5 ml H2SO4 yaitu 32°C, reaksi 10 ml NaOH dengan 5 ml H2SO4
yaitu 33°C dan reaksi 12.5
ml NaOH dengan 2.5 ml H2SO4
yaitu 31°C
- Pada sistem NaOH – H2SO4, 2.5
ml NaOH dengan 12.5 ml H2SO4
, 5 ml NaOH dengan
10 ml H2SO4 , dan
7.5 ml NaOH dengan
7.5 ml H2SO4
reaksi pembatasnya adalah NaOH dan reaksi
sisanya adalah H2SO4, sedangkan dalam 10 ml
NaOH dengan 5 ml H2SO4
tidak ada reaksi pembatas dan reaksi sisa,
12.5 ml NaOH dengan
2.5 ml H2SO4 reaksi pembatasnya adalah H2SO4. Dan reaksi sisanya
adalah NaOH.
5.2 Saran
Sebaiknya percobaan ini dilakukan dengan senyawa yang
lebih, tidak hanya dengan menggunakan
NaOH dan H2SO4 ,agar
hasilnya yang bisa diamati lebih beragam, contohnya dengan larutan Na2CO3
– HCl atau KOH – CH3COOH.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Hiskia.
1985. Kimia Dasar (modul 1-5). Jakarta : UT
Aphiin.Blog.2012.LAPORAN
STIOKIOMETRI.www.fileq.wordpress.com. Diakses pada 17 Desember 2013
pukul 17.55 WITA
Brady,
J.E.1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid Satu.Binarupa
Aksara:Jakarta
Brady, J.E dan
Humiston. 1986. General Chemistry. New York: John Willey and Sons.
Hiskia, A dan
Tupamahu. 1991. Stoikiometri Energi Kimia. Bandung: ITB Press.
Muhrudin, Udin.
2011. Praktikum Stoikiometri Reaksi. http://chemistapolban.blogspot.com/
2011/06/praktikum-stoikiometri-reaksi.html. Diakses tanggal 17 Desember 2013
pukul 22.51 WITA
Luthfiya-blog.2012.LAPORANPRAKTIKUM KIMIA DASAR.www.luthfiya-blog.blogspot.com.
Diakses pada 17 Desember 2013 pukul 22.51 WITA
Sri Ayu, Risma.2012.LAPORAN
MINGGUAN STOIKIOMETRI.www.rismaayushy.blogspot.com. Diakses pada 17 Desember 2013 pukul 17.55 WITA
Trie Wahyuni,
Ita.2012.LAPORAN KIMIA DASAR II
STOIKIOMETRI.www.itatrie.blogspot.com. Diakses pada 17 Desember 2013 pukul
17.33 WITA